Haidar yang membaca surat itu seperti tersambar petir. Gadisnya, Karisya pergi. Pergi selamanya bahkan sebelum Haidar mengucapkan selamat pergi. Haidar menyesal selalu memendam perasaannya, jika saja dia lebih cepat mengungkapkan perasannya maka setidaknya gadisnya tidak akan pergi dalam keadaan tidak tau bahwa Haidar memiliki perasaan yang sama dengannya.
Haidar menatap peti mati Karisya, Karisya minta agar mayatnya dikremasi saja. Haidar mendekati peti mati Karisya, padahal dia sudah berjanji tidak akan menangis tapi melihat Karisya terbaring dalam keadaan sudah tidak bernafas lagi membuat hatinya tersayat dan ia tak mampu membendung tangisannya. Haidar menangis sejadi jadinya di samping peti mati Karisya.
“Ris, gue minta maaf sama lo, maaf gue ga peka sama perasaan lo maaf kalau gue ngerepotin lo terus. Ris, gue juga suka sama lo. Gue berencana mau nembak lo di hari pengumuman utbk kita. Gue ada banyak mimpi termasuk bahagiain lo Ris. Sakit Ris, sakit banget ngeliat lo ternyata pergi secepat itu. Gue bahkan ga sempet ngucapin terima kasih maupun ngucapin selamat tinggal. Risya sayang, bangun ayo, ayo kita pacaran, ayo kita kuliah bareng, lo pasti bisa jadi jaksa” Haidar menangis sejadi jadinya, di sampingnya ada Ibun Risya memeluknya dan membantu menenangkan Haidar walaupun dirinya sendiri sangat patah hati melihat sang buah hati pergi lebih dulu.
Setelah mayat Karisya dikremasi, Haidar hanya bisa terduduk di kamarnya sambil menangisi gadisnya. Karisya, sang gadis yang tak pernah sempat ia miliki. Haidar menatapi foto foto Karisya, dimana album yang berisi fotonya dan Karisya dari smp yang memang selalu dia simpan karena Haidar sangat menyukai Karisya. Haidar menyesal tidak mengetahui apa yang terjadi pada Karisya, gadis yang selalu tersenyum manis menyapanya dengan hangat hanya tinggal kenangan. Walaupun susah untuk diterima tapi Haidar akan terus berusaha bangkit untuk membanggakan Karisya nya disana.